Sunday, 29 January 2012

Mengenal Batas Suci Mesjid Jami' Malang, Jatim

by
Teuku Muttaqin Mansur 


Bila dipandang sekilas dari luar, mesjid Jami’ kota Apel, Malang, Jawa Timur  tidak jauh  berbeda dengan mesjid-mesjid lain pada umumnya,  baik dari sisi arsitektur maupun dari kubahnya. Tetapi apabila kita mulai memasuki pekarangannya maka jelas terlihat bahwa mesjid tersebut sangat terpelihara kesucian terutama dari najis yang kemungkinan terbawa melalui alas kaki para jamaah. Bagi saya kesucian  itu yang menarik untuk ditelisik lebih jauh dari mesjid yang berdiri megah berhadapan dengan pusat keramaian, Town Square (alun-alun kota) Malang.
     
Dalam Islam, kesucian merupakan hal yang sangat pokok, bahkan manakala kita belajar kitab-kitab fikih atau membaca buku-buku tentang ilmu fikih, pada bab-bab pertama pelajaran kitab dan buku tersebut diuraikan secara sangat detil mengenai thaharah (cara bersuci dan kesuciannya). Karena itu, adalah sesuatu pada tempatnya jika mesjid yang kita kenal sebagai rumah Allah, tempat beribadah umat Islam harus dijaga dari kesuciannya meskipun diakui di beberapa mesjid yang ada masih kurang tertata dengan bagus.

Mungkin kuncinya adalah seperti penataan Mesjid Jami' Malang di mana pada penataan batas suci yang di atur sedemikian rupa mulai penataan di teras mesjid, kemudian jalur masuk ke tempat wudhu' sampai pada penataan keluar-masuk dari toilet (WC).
      
Mesjid dengan satu kubah besar di apit oleh dua menara setinggi kira-kira 20 meter terlihat amat mencolok berada di tengah-tengah kota. Saya pernah melaksanakan Shalat Jumat pada 26 Juli 2011 lalu di mesjid tersebut.  Ini adalah kunjungan saya ke tujuh  selama hampir dua bulan saya tinggal di kota Malang. Ada daya pikat tersendiri yang tidak bisa saya uraikan dengan tulisan ini dan itu sebagai magnet penarik jiwa yang terus meminta untuk shalat di Mesjid Jami’. Terasa ada ketentraman, ada kenyamanan di dada ketika berada di dalam rumah Allah tersebut.
     
Meski mempunyai pagar yang agak rendah namun pintu Mesjid ada tiga buah yang menambah ciri keterbukaan. Pintu besar terletak di tengah-tengah, sedangkan dua pintu lainnya dengan ukuran yang agak kecil berada pada dua sisi yakni kiri dan kanan. Pada pintu sisi kanan, terdapat sebuah pos satpam sehingga menambah rasa khusyuk ketika kita sedang bersujud di hadapan yang Maha Kuasa karena tidak gundah akan kehilangan seperti sandal/sepatu yang berada di teras Mesjid.
     
Bagi yang sudah mengambil wudhu' dari rumah maka pintu  kanan (untuk wanita) dan kiri (jamaah pria) sementara pintu tengah boleh kedua-duanya boleh terus langsung menuju ke dalam mesjid. Namun bagi yang belum mengambil air wudhuk atau ada hajat ke toilet maka se arah dengan pintu  kiri ada jalur  terowongan yang agak menurun yang diperuntukkan bagi jamaah pria begitu juga untuk jalur terowongan kanan yang diperuntukkan  bagi jamaah wanita.
     
Sebelum jamaah menaiki tangga mesjid, terdapat lantai keramik agak kesat yang terbuat dari batu-batu halus berwarna hitam tetapi lantai tersebut tidak dipayungi oleh loteng mesjid. Lebarnya kira-kira dua meter dan panjang sepanjang teras Mesjid. Nah, di lantai itulah pertama sekali dapat kita lihat tulisan “batas suci” dengan huruf  yang jelas. Jadi jika tidak hati-hati, kita menyangka lantai tersebut masih dapat dinaikkan alas kaki.  Bila itu dilakukan, maka siap-siap akan di tegur oleh pengurus mesjid atau security di sana.

Kemudian bagi yang belum melaksanakan wudhuk, maka sejajar dengan pintu masuk pria sebelum menuju terowongan akan kita dapati kolam kecil yang berisi air setinggi 15 cm atau kira-kira melewati batas tumit. Tempat itu terletak dibahagian paling depan di sisi teras mesjid tadi. Ini berfungsi agar para jamaah sebelum menginjak lantai mesjid dapat mensucikan kakinya terlebih dahulu. Kira-kira baru berjalan eempat meter ke depan, ada lagi kolam kecil lainnya sebagai tempat suci ke dua. Setelah itu jamaah barulah dapat mengambil air wudhuk pada kran-kran air yang telah disediakan.
     
Selanjutnya bagi jamaah yang telah berwudhuk, tidak boleh lagi keluar melalui pintu terowongan, tetapi langsung menaiki tangga terus ke atas. Setidaknya  ada dua tangga yang tersedia di sana. Di masing-masing tangga kembali terlihat ada tulisan “batas suci”, artinya jamaah tidak diperkenankan lagi keluar tetapi di minta langsung menuju ke dalam mesjid melalui tangga-tangga tersebut. Jadi setiap jamaah benar-benar terjaga kesuciannya ketika akan melaksanakan shalat.
     
Bagi yang hendak buang hajat, jamaah dapat terus berjalan hingga menemukan kolam air yang harus dilaluinya. Sementara toiletnya berada agak naik ke atas. Terdapat beberapa pintu toilet yang tersedia di sana, tetapi kebanyakan adalah toilet sebagai 'kamar kecil'. Saat keluar toilet, jamaah kembali akan melalui jalan yang sama, yakni melewati kolam air tadi dan baru kemudian ke kran-kran tempat mengambil wudhu'.

Oleh sebab penataan yang demikian, maka pada setiap jamaah tidak akan terlihat ada bekas najis yang terbawa baik ketika masuk dari luar menuju terowongan maupun di saat jamaah keluar dari toilet. Sungguh konsep penataan yang sangat istimewa dan tentu akan membuat betah para jamaah untuk berlama-lama di Mesjid dengan kesucian yang tinggi ini. Semoga menjadi contoh yang baik bagi Mesjid-mesjid yang lain.


Tulisan ini sudah pernah dipublikasi oleh situs berita online Theglobejournal.com pada tanggal 5 Agustus 2011. Meski demikian, ada beberapa bagian dalam tulisan ini yang ditambahkan sebagai pelengkap dari tulisan tersebut.

http://theglobejournal.com/kategori/feature/mengenal-batas-suci-mesjid-jami-malang.php
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Mengenang 15 Tahun Tsunami; Wajah Ayah Selalu Membayang

Oleh:   Teuku Muttaqin Mansur (Anak salah seorang korban tsunami 26 Desember 2004) Ayah saya, Teuku Haji Mansur bin Muda Gade, l...