Saturday, 14 July 2012

Memantau Aceh dari Luar Negeri

By

Teuku Muttaqin Mansur

Presiden Badan Kebajikan Pendidikan Mahasiswa Aceh (Bakadma) UKM.


HAMPIR setahun saya tinggal di Malaysia untuk melanjutkan studi Program Doktor pada Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Saya merasa gembira berada di sini, sebab kuliah di Malaysia merupakan cita-cita saya semenjak lulus S1 di Fakultas Hukum Unsyiah Banda Aceh pada akhir tahun 2001.

Dari banyak hal menarik yang sempat saya perhatikan di kalangan mahasiswa Aceh maupun masyarakat Aceh di Malaysia, ada satu hal yang khas. Yakni, mereka sangat gemar memantau perkembangan Aceh. Lebih dari 80% warga Aceh di negeri jiran ini sering saling tanya tentang kondisi terkini Aceh. Terutama kondisi sosiopolitiknya.

Apalagi dulu ketika sedang hangat-hangatnya dibicarakan konflik regulasi menjelang Pilkada Aceh 9 April lalu. Bukan cuma di Aceh, di kalangan mahasiswa dan pendatang asal Aceh di Malaysia pun ramai diperdebatkan wacana boleh tidaknya calon independen ikut pilkada. Kabar terakhir yang ramai diperbincangkan di Malaysia adalah cerita pascapelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih, Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Kami di Malaysia sangat terkejut begitu mendengar pada 25 Juni sore itu terjadi insinden pemukulan terhadap mantan gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Lalu malamnya terjadi pula penembakan kader Partai Aceh di dekat Lambaro, Aceh Besar.

Berbagai ulasan dikemukakan warga Aceh di Malaysia ini untuk mendalami sisi-sisi penting kondisi terkini Aceh. Tak peduli mereka berlatar belakang apa. Pekerja lepas, pedagang, mahasiswa, ataupun pengajar sekalipun. Mereka saling mengasah otak dan beradu argumen saat mengulas peristiwa penting, apalagi saat mempertahankan keyakinannya yang dianggap sebagai kebenaran.

Mungkin ini mirip dengan kebiasaan masyarakat kita di Aceh yang sering membahas isu-isu “hot” di warung-warung kopi di Aceh. Bedanya hanyalah pada tempatnya saja. Sebab, di sini diskusi atau debat mereka tidak hanya terbatas di warung, tetapi asal mereka bertemu sepertinya tidak enak apabila tak membincangkan Aceh, walaupun dalam waktu terbatas. Perilaku ini, kuat dugaan saya, akibat pengaruh kecintaan mereka kepada Aceh. Juga karena keinginan mereka agar Aceh menjadi makin lebih baik ke depan.

Lalu, yang masih menjadi soal bagi saya adalah bagaimana mereka memperoleh informasi terbaru tentang Aceh, padahal di Malaysia mereka tinggal terpencar? Dari amatan saya, ternyata mereka memperoleh informasi tersebut melalui media online atau media cetak yang juga ada versi online-nya yang saat ini sedang ngetrend di Aceh. Sebut saja, misalnya, aceh.tribunnews.com, theglobejournal.com, atjehpost.com, harian-aceh.co.id, dan media online lainnya.

Bahkan, kepedulian mereka terhadap berita media-media tersebut kadang membuat mereka saling mempertahankan ide, sesuai dengan informasi atau dari sumber media mana mereka peroleh info dan data.

Salah seorang teman saya yang baru datang dari Aceh baru-baru ini sempat terheran-heran menyimak pengetahuan keacehan warga Aceh di Malaysia. Ia bertanya, seserius itukah orang Aceh memantau perkembangan daerahnya dari luar negeri?

Saya yakin, keadaan seperti ini tidak cuma terjadi di Malaysia, tetapi di negara lain pun di mana orang Aceh bermukim, hal serupa mereka lakoni. Semoga saja Aceh kian jaya di tengah kepedulian dan kecintaan rakyatnya terhadap nanggroe, sekalipun mereka sedang di rantau.

 
Tulisan ini telah di muat pada surat kabar Harian Serambi Indonesia edisi, 13 Juli 2012. http://aceh.tribunnews.com/2012/07/13/memantau-aceh-dari-luar-negeri 
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Mengenang 15 Tahun Tsunami; Wajah Ayah Selalu Membayang

Oleh:   Teuku Muttaqin Mansur (Anak salah seorang korban tsunami 26 Desember 2004) Ayah saya, Teuku Haji Mansur bin Muda Gade, l...