Teuku Muttaqin Mansur
CITIZEN Reporter, dalam setahun terakhir menjadi trend di Aceh, media
Serambi Indonesia adalah salah satu media lokal yang memberi ruang
kepada penduduk untuk melaporkan berbagai peristiwa penting yang
terjadi di sekitarnya. Wal hasil, ruang itu pun paling banyak diminati
oleh para mahasiswa Aceh yang menuntut ilmu di berbagai universitas di
dunia.
Bagaimanapun, unsur lain seperti dosen, profesional dan masyarakat luas lainnya juga telah berkontribusi untuk ruang tersebut. Terlepas dari perdebatan apakah informasi yang disampaikan para citizer penting ataupun tidak bagi pembaca, yang pasti keberagaman informasi yang diberikan kepada publik setidaknya dapat mewarnai khazanah pengetahuan baru bagi masyarakat luas.
Gaya tulisan yang dominan digunakan citizer secara ilmu metodologi adalah gaya penulisan etnografi. Gaya ini biasanya muncul pada mereka yang melakukan kajian antropologi. Bagi pembaca, gaya penulisan seperti itu sangat mudah dipahami dibandingkan dengan gaya tulisan ilmiah pada umumnya oleh sebab penulisan etnografi tidak hanya citizer yang hanyut dalam suatu peristiwa tetapi juga para pembacanya.
Para citizer terutama yang berada di luar negara adalah penulis citizen yang dominan di Harian Serambi Indonesia. Paling kurang ada dua hal yang menjadi pertimbangan menjadi citizer. Pertama, rindu kampung halaman. Meskipun bagi sebagian orang alasan ini dianggap sepele atau terlalu manja, tetapi bagi sebagian yang lainnya apalagi yang baru pertama kali keluar negari, tentu perasaan rindu kampung sangat kentara dirasakan.
Bila sebelumnya tiap hari bias dekat dengan keluarga tercinta, mudah memperoleh makan dan minum yang sesuai dengan selera, tetapi begitu di luar negara semuanya berbalik 180 derajat. Apalagi bagi mereka yang studi di Eropa atau Amerika.
Kedua, menginformasikan kelebihan negeri orang untuk merubah negeri sendiri. Walaupun disadari bahwa tidak selalu daerah orang lebih baik dibandingkan dengan daerah sendiri, seperti lelucon yang sudah jamak “lihat anak orang ingat anak sendiri, lihat istri orang lupa pada istri sendiri”.
Namun tidaklah naif apabila kita mengakui seperti kemajuan bidang pelayanan publik, bidang sciene, sosial, kedokteran, teknologi dan lain sebagainya yang ada di negeri orang itu lebih baik dibandingkan dengan negeri kita. Karenannya boleh diambil sebagai contoh untuk mengubah negeri sendiri ke arah yang lebih baik.
Dulu rakyat Malaysia datang untuk belajar ke Aceh dan dengan itu mereka berhasil membentuk sebuah peradaban dengan kemajuan yang seperti sekarang ini, tetapi sekarang ribuan rakyat Aceh datang ke Malaysia untuk mengambil kembali ilmu yang pernah diturunkan kepada mereka tempo dulu, namun kenyataannya sudah adakah perubahan di Aceh?
Nah, belajar dari informasi yang diberikan oleh para citizer melalui media seperti Harian Serambi Indonesia seharusnya mulai dilakukan aksi oleh pemerintah kita untuk menuju sebuah perubahan. Now, We need action for a change, sekarang kita perlu tindakan untuk sebuah perubahan.
Bagaimanapun, unsur lain seperti dosen, profesional dan masyarakat luas lainnya juga telah berkontribusi untuk ruang tersebut. Terlepas dari perdebatan apakah informasi yang disampaikan para citizer penting ataupun tidak bagi pembaca, yang pasti keberagaman informasi yang diberikan kepada publik setidaknya dapat mewarnai khazanah pengetahuan baru bagi masyarakat luas.
Gaya tulisan yang dominan digunakan citizer secara ilmu metodologi adalah gaya penulisan etnografi. Gaya ini biasanya muncul pada mereka yang melakukan kajian antropologi. Bagi pembaca, gaya penulisan seperti itu sangat mudah dipahami dibandingkan dengan gaya tulisan ilmiah pada umumnya oleh sebab penulisan etnografi tidak hanya citizer yang hanyut dalam suatu peristiwa tetapi juga para pembacanya.
Para citizer terutama yang berada di luar negara adalah penulis citizen yang dominan di Harian Serambi Indonesia. Paling kurang ada dua hal yang menjadi pertimbangan menjadi citizer. Pertama, rindu kampung halaman. Meskipun bagi sebagian orang alasan ini dianggap sepele atau terlalu manja, tetapi bagi sebagian yang lainnya apalagi yang baru pertama kali keluar negari, tentu perasaan rindu kampung sangat kentara dirasakan.
Bila sebelumnya tiap hari bias dekat dengan keluarga tercinta, mudah memperoleh makan dan minum yang sesuai dengan selera, tetapi begitu di luar negara semuanya berbalik 180 derajat. Apalagi bagi mereka yang studi di Eropa atau Amerika.
Kedua, menginformasikan kelebihan negeri orang untuk merubah negeri sendiri. Walaupun disadari bahwa tidak selalu daerah orang lebih baik dibandingkan dengan daerah sendiri, seperti lelucon yang sudah jamak “lihat anak orang ingat anak sendiri, lihat istri orang lupa pada istri sendiri”.
Namun tidaklah naif apabila kita mengakui seperti kemajuan bidang pelayanan publik, bidang sciene, sosial, kedokteran, teknologi dan lain sebagainya yang ada di negeri orang itu lebih baik dibandingkan dengan negeri kita. Karenannya boleh diambil sebagai contoh untuk mengubah negeri sendiri ke arah yang lebih baik.
Dulu rakyat Malaysia datang untuk belajar ke Aceh dan dengan itu mereka berhasil membentuk sebuah peradaban dengan kemajuan yang seperti sekarang ini, tetapi sekarang ribuan rakyat Aceh datang ke Malaysia untuk mengambil kembali ilmu yang pernah diturunkan kepada mereka tempo dulu, namun kenyataannya sudah adakah perubahan di Aceh?
Nah, belajar dari informasi yang diberikan oleh para citizer melalui media seperti Harian Serambi Indonesia seharusnya mulai dilakukan aksi oleh pemerintah kita untuk menuju sebuah perubahan. Now, We need action for a change, sekarang kita perlu tindakan untuk sebuah perubahan.
Tulisan ini sudah pernah dipublikasi oleh situs Harian Serambi Indonesia pada tanggal 22 April 2012.
http://aceh.tribunnews.com/2012/04/22/menulis-cr-rindu-kampung-halaman








0 komentar:
Post a Comment