Teuku Muttaqin Mansur
Senin (23/1/2017) lalu, saya bersama beberapa mahasiswa
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang berada
di bawah bimbingan (DPL) saya berkesempatan mengunjungi monumen Radio
Rimba Raya Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Keinginan mengunjungi tempat bersejarah tersebut sebenarnya
sudah lama menggelora di dada. Alhamdulillah baru menjadi kenyataan
pada Senin lalu.
Saya pikir, siapapun orang Indonesia, belum sah rasanya
sebagai rakyat Indonesia jika belum pernah mengunjungi monumen Radio
Rimba Raya ini. Mengapa?
Sejarah mecatat bahwa, meskipun Indonesia telah
memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, namun agresi
militer kedua yang ditandai dengan suasana Indonesia dalam keadaan
kritis karena pada 19 Desember 1948, Ibu Kota Negara saat itu,
Yogyakarta, berhasil dikuasai Belanda. Keadaan genting tersebut di
perparah lagi dengan Radio Republik Indonesia yang biasanya memekik
suara merdeka ke seantero dunia juga tidak lagi mengudara.
Pada saat demikian, Radio Belanda Hiversum dengan lantangnya menyuarakan bahwa Indonesia telah hancur.
"Saat-saat genting seperti itulah, 20 Desember 1948 malam,
Radio Rimba Raya di Pintu Rime Gayo, di Aceh negeri kita, kembali
mengudara membus angkasa raya, dan dengan penuh semangat Radio Rimba
Raya memberitakan bahwa, Indonesia masih ada, masih berdiri kokoh, dan
Revolusi melawan penjajah masih tetap dijalankan secara menyala-nyala."
(Sumber: Cuplikan tulisan pada prasasti di monumen Radio Rimba Raya).
Itulah jasa kita, jasa Aceh yang tiada terkira untuk
Indonesia Raya yang merdeka. Karena jika saja Radio Rimba Raya tidak
mengudara, tidak dapat kita bayangkan dimana kita saat ini berada.
Walaupun jasanya tiada terkira, namun sayangnya tempat
bersejarah tersebut saat ini seperti di lupa. Menuju ke sana saja kita
mesti banyak bertanya ke sana kemari karena tidak ada plang penunjuk
arah yang jelas.
Beruntung saya dan teman-teman ditunjukkan lokasi oleh
orang baik hati penduduk Ronga-Ronga karena ternyata jalan menuju
monumen tersebut telah kami lewati hampir 3 km jaraknya. Akhirnya
setelah kembali mundur kebelakang baru kami berjumpa dan singgah di
tempat yang amat bersejarah tersebut.
Di lokasi monumen, tampak tidak seperti di tempat bersejarah lainnya yang biasanya di jaga dengan guide secukupnya.
Bangunan monumen itu pun seolah lusuh karena cat tidak lagi
cantik, seolah telah ditinggal lama oleh yang empunya. Rerumputan juga
tumbuh sebegitunya, seolah tidak ada yang merapikannya.
Ini sungguh kontras, kontras dengan jasanya untuk Indonesia
Raya, kontras dibandingkan tempat-tempa bersejarah lainnya di nusantara
yang begitu tertata rapi dengan penjaga secukupnya.
Kemana ku harus mengadu, jika yang mempunyai jasa besar
berdirinya negeri ini saja tidak ada yang peduli. Salahkah jika anak
cucu kita mulai kehilangan identiti? Habis duit bergoni-goni entah apa
saja yang dibelanjai.
Radio Rimba Raya, nasibmu kini...
Kampung Rime Raya, Senin, 23 Januari 2017
Wallahu'alam.








0 komentar:
Post a Comment