Sunday, 29 January 2017

Radio Rimba Raya, Nasibmu kini; Sebuah Catatan Pejalanan

By
     Teuku Muttaqin Mansur


Senin (23/1/2017) lalu, saya bersama beberapa mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang berada di bawah bimbingan (DPL) saya berkesempatan mengunjungi monumen Radio Rimba Raya Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Keinginan mengunjungi tempat bersejarah tersebut sebenarnya sudah lama menggelora di dada.  Alhamdulillah baru menjadi kenyataan pada Senin lalu.
Saya pikir, siapapun orang Indonesia, belum sah rasanya sebagai rakyat Indonesia jika belum pernah mengunjungi monumen Radio Rimba Raya ini. Mengapa?
Sejarah mecatat bahwa, meskipun Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, namun agresi militer kedua yang ditandai dengan suasana Indonesia dalam keadaan kritis karena pada 19 Desember 1948, Ibu Kota Negara saat itu, Yogyakarta, berhasil dikuasai Belanda. Keadaan genting tersebut di perparah lagi dengan Radio Republik Indonesia yang biasanya memekik suara  merdeka ke seantero dunia juga tidak lagi mengudara. 
Pada saat demikian, Radio Belanda Hiversum dengan lantangnya menyuarakan bahwa Indonesia telah hancur.
"Saat-saat genting seperti itulah, 20 Desember 1948 malam, Radio Rimba Raya di Pintu Rime Gayo, di Aceh negeri kita, kembali mengudara membus angkasa raya, dan dengan penuh semangat Radio Rimba Raya memberitakan bahwa,  Indonesia masih ada, masih berdiri kokoh, dan Revolusi melawan penjajah masih tetap dijalankan secara menyala-nyala." (Sumber: Cuplikan tulisan pada prasasti di monumen Radio Rimba Raya).
Itulah jasa kita, jasa Aceh yang tiada terkira untuk Indonesia Raya yang merdeka. Karena jika saja Radio Rimba Raya tidak mengudara, tidak dapat kita bayangkan dimana kita saat ini berada.
Walaupun jasanya tiada terkira, namun sayangnya tempat bersejarah tersebut saat ini seperti di lupa. Menuju ke sana saja kita mesti banyak bertanya ke sana kemari karena tidak ada plang penunjuk arah yang jelas.
Beruntung saya dan teman-teman ditunjukkan lokasi oleh orang baik hati penduduk Ronga-Ronga karena ternyata jalan menuju monumen tersebut telah kami lewati hampir 3 km jaraknya. Akhirnya setelah kembali mundur kebelakang baru kami berjumpa dan singgah di tempat yang amat bersejarah tersebut.
Di lokasi monumen, tampak tidak seperti di tempat bersejarah lainnya yang biasanya di jaga dengan guide secukupnya. 
Bangunan monumen itu pun seolah lusuh karena cat tidak lagi cantik, seolah telah ditinggal lama oleh yang empunya. Rerumputan juga tumbuh sebegitunya, seolah tidak ada yang merapikannya.
Ini sungguh kontras, kontras dengan jasanya untuk Indonesia Raya, kontras dibandingkan tempat-tempa bersejarah lainnya di nusantara yang begitu tertata rapi dengan penjaga secukupnya.
Kemana ku harus mengadu, jika yang mempunyai jasa besar berdirinya negeri ini saja tidak ada yang peduli. Salahkah jika anak cucu kita mulai kehilangan identiti? Habis duit bergoni-goni entah apa saja yang dibelanjai.
Radio Rimba Raya, nasibmu kini...
Kampung Rime Raya, Senin, 23 Januari 2017
Wallahu'alam.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Mengenang 15 Tahun Tsunami; Wajah Ayah Selalu Membayang

Oleh:   Teuku Muttaqin Mansur (Anak salah seorang korban tsunami 26 Desember 2004) Ayah saya, Teuku Haji Mansur bin Muda Gade, l...