Monday, 9 June 2014

Detik-detik Landing Darurat dan ‘Penyelamatan’ Kapten Imran

Oleh : Teuku Muttaqin Mansur




Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi saya saat menumpang Pesawat Air Asia dari Bandara Sultan Iskandar Mudan (SIM) Banda Aceh menuju LCCT Kuala Lumpur, Malaysia (sebelum bandara LCCT berpindah ke KLIA 2 pada awal Mei 2014). 

Ketika ini cuaca di Asia secara umum dilaporkan buruk dan mengakibatkan terganggunya arus transportasi darat, laut dan udara.  Banyak penyedia jasa transportasi menunda keberangkatan sesuai jadwal. Sejumlah penerbangan juga dibatalkan, dialihkan atau terpaksa harus melakukan pendaratan darurat untuk mencegah tejadinya kecelakaan. Saya adalah salah seorang yang mengalami dampak langsung dari cuaca buruk itu. Pengamalan mendebarkan dan detik-detik pendaratan darurat oleh Kapten Imran terjadi pada Minggu, 1 September 2013. 

Seperti jadwal biasanya, tepat pukul 11.45 WIB pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK 1306 take off dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Kala itu, lampu seat belt belum juga dimatikan hingga 1 jam pesawat di udara. Dalam keadaan cuaca yang baik biasanya lampu seat belt dipadamkan antara 10-15 menit pesawat berada di udara. Selang 1 jam kemudian, baru terdengar bunyi suara lampu seat belt dipadamkan. Ini tentu menandakan bahwa cuaca mulai membaik. Saya duduk di kursi 19 A sebelah kiri ,pas berdekatan dengan jendela kaca pesawat. Kursi itu tepat di belakang sayap pesawat. Karena itu, saya dapat melihat dengan jelas bagaimana cuaca di luar sana.

Di luar tampak awan bergelombang hitam berhembus kencang. Sesekali badan pesawat bergetar ketika menerobos awan-awan tersebut. Seorang Tionghoa yang duduk persis di samping saya masih terlihat santai dengan keadaan itu. Beberapa Tionghoa lainnya duduk di barisan lain, berdekatan dengan Tionghoa yang disebelah kanan saya. Mereka malah tertawa terbahak-bahak seolah tak peduli kalau pesawat sedang dalam bahaya. Tionghoa yang duduk dibarisan lainnya ditegur seorang pramugari karena kursinya belum ditegakkan. Namun setelah pramugari berlalu, mereka kembali bercengkerama dan tertawa. Mereka bukanlah Tionghoa asal Aceh yang mau melancong ke Malaysia, tetapi mereka berasal dari Malaysia yang baru pulang berlibur dari Pulau Weh, Sabang. Hal itu saya ketahui, ketika salah seorang dari mereka memegang passport berwarna merah hati, bukan hijau burung garuda seperti passport Indonesia, dan diantara mereka ada yang menyebut-nyebut nama Pulau Weh. 

Pesawat mulai meninggalkan ketinggian 3800 kaki, sejurus kemudian sayap pesawat mulai diturunkan. Tidak berapa lama ban pesawat sudah dikeluarkan dari sarungnya sebagai tanda bahwa pesawat sebentar lagi akan landing di Bandara LCCT, Kuala Lumpur, Malaysia.

Saya terus memperhatikan cuaca di luar, awan kian hitam pekat, hujan turun deras dan mulai membasahi jendela kaca bagian luar di samping tempat duduk saya. Pesawat telah mengambil posisi lurus menurun. Dalam posisi yang demikian biasanya hanya memerlukan waktu 10 menit pesawat telah dapat landing dengan sempurna. Namun kali ini sudah lebih dari 20 menit lamanya pesawat belum juga dapat landing.  Tidak berapa lama kemudian, saya lihat sayap pesawat yang tadinya diturunkan kembali dimasukkan kedalam sarungnya, begitu pula dengan ban pesawat. Seterusnya sedikit demi sedikit pesawat itu kembali menanjak ke atas dan berputar untuk mencari posisi landing kembali. Ini menunjukkan pesawat tidak dapat landing ketika itu. 

Denyutan jantung saya berdetak lebih kencang dari biasanya, istighfar terucap didalam hati, seraya berharap tidak akan terjadi apa-apa. Saya perhatikan beberapa penumpang lainnya juga telah merasa cemas. Hening senyap membisu tanpa suara, termasuk orang-orang Tionghoa itu.

Saat itu adalah Kapten Imran, Pilot pesawat Air Asia AK 1306 belum memberitahukan apa-apa. Padahal secara kasat mata keadaan kami sudah darurat.  Pesawat kemudian kembali menaik dan memutar untuk mengambil kembali posisi pendaratan. Usaha kali kedua ini pun gagal karena cuaca diluar masih sangat gelap pekat. Akhirnya sang pilot mengumumkan bahwa pesawat tidak dapat mendarat di LCCT, pesawat akan mendarat di Subang, kira-kira 15 menit penerbangan dari LCCT. Meskipun cuaca di Subang berawan, tetapi masih lebih baik dari cuaca di LCCT, kata Pilot Imran. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa landing dengan selamat. Detik-detik mendebarkan itu terlewati. 

Begitu pesawat mendarat sempurna di Subang, terdengar tepuk tangan penumpang dibarisan depan, sementara Tionghoa yang tadi mulai terdiam saat detik-detik darurat kembali tertawa lebar. Saya, Tionghoa, Kismullah teman saya yang duduk pada barisan kursi dibelakang dan penumpang lainnya bersiap-siap membuka kabin pesawat untuk mengambil tas/barang bawaan di kabin. Kami pikir kami akan turun di Subang dan melanjutkan perjalanan dengan bus/taxi ketempat masing-masing. Namun, pramugari tidak juga membuka pintu pesawat.

Selang 5 menit kemudian,  Kapten Imran keluar dari kokpit dan mengumumkan bahwa penumpang tidak diturunkan di Subang, tetapi akan diterbangkan kembali ke LCCT setelah cuaca membaik di sekitaran Bandara LCCT. Bagaimanapun, Kapten Imran mempersilakan kepada para penumpang untuk menggunakan telpon menghubungi keluarga mereka masing-masing, supaya tidak merasa cemas. Saya sendiri menggunakan kesempatan itu untuk mengirimkan 1 pesan singkat kepada isteri saya di Aceh, karena saat itu kebetulan pulsa yang saya miliki sangat terbatas.  Sang Kapten juga meminta penumpang untuk bersabar serta berdoa agar perjalanan itu selamat.

Setelah memperoleh informasi cuaca telah membaik di LCCT, tepat pukul 16.40 Waktu Malaysia, pesawat AK1306 yang saya tumpangi kembali diterbangkan rendah menuju LCCT, Alhamdulillahirabbilalamin, kami akhirnya landing dengan selamat pada pukul 17.00 di LCCT. 

Walaupun keadaan darurat, ternyata komunikasi Kapten Imran dengan penumpang secara langsung mendapatkan sambutan hangat dari para penumpang. Beberapa orang memahami dan merasa nyaman dengan keputusan Pilot tidak memaksakan menurunkan pesawat  AK1306 itu dalam cuaca buruk di LCCT. 

Saya berharap, sikap Pilot Imran dan kooperatifnya penumpang pesawat diseluruh penerbangan dapat menjadi pelajaran berharga bagi pilot dan penumpang pada penerbangan lainnya. Bahwa keselamatan penerbangan adalah di atas segala-galanya. Semoga menjadi 'Itibar. Wallahu’alam.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Mengenang 15 Tahun Tsunami; Wajah Ayah Selalu Membayang

Oleh:   Teuku Muttaqin Mansur (Anak salah seorang korban tsunami 26 Desember 2004) Ayah saya, Teuku Haji Mansur bin Muda Gade, l...