Wednesday, 20 March 2013

Nasihat Cinta dari Kelantan

by
       Teuku Muttaqin Mansur


MESKIPUN keinginan saya dan seorang teman yang datang dari Aceh untuk bertemu dengan Menteri Besar Negeri Kelantan Malaysia, Dato’ Nik Aziz Nik Mat atau orang Kelantan menyebutnya “Tuan Guru” tidak kesampaian, namun perjalanan pada Selasa lalu untuk menemui sang Tuan Guru dipenuhi cerita-cerita menarik.

Cerita itu tidak hanya mengenai sosok beliau sebagai mursyidul Islam yang sangat cinta Islam, tetapi juga kami dapati bagaimana rakyatnya mewujudkan kecintaan mereka kepada tegaknya Islam di sana.

Setelah menempuh perjalanan sembilan jam naik bus dari Terminal Kajang, akhirnya kami tiba di Kota Bharu, ibu kota Negeri Kelantan, saat azan Subuh berkumandang. Setelah bertanya di mana letak masjid terdekat kepada salah satu sopir taksi, kami bergegas menuju Muhammadi, Masjid Jamik Kelantan yang ia sebutkan.

Hanya tujuh menit dari Terminal Bus Kota Bharu, tempat kami turun, kami tiba di masjid tersebut bersamaan imam sedang takbiratul ihram.

Seusai shalat dan rehat sejenak, pukul 8 pagi kami dijemput Fahmi,  mantan mahasiswa saya di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Fahmi saya hubungi menjelang berangkat dari Kajang ke Kota Bharu. Atas kebaikannya kami dapat berkeliling Kota Kelantan, menuju rumah Tuan Guru di Pulau Malaka, dan berkeliling ke kompleks kampung kraftangan (cenderamata). Kompleks ini berada di sisi Istana Lama Negeri Kelantan dan di depan Museum Raja Istana Batu.

Menurut Fahmi, Tuan Guru agak susah ditemui dalam masa-masa sekarang ini. Lalu ia sarankan agar kami langsung saja ke rumah Tuan Guru karena biasanya ia berada di rumahnya dan menjadi imam shalat Ashar di surau dekat rumahnya. Rumah itu sangat sederhana, terletak pas di belakang surau dalam Kompleks Pondok Pesantren Ma’haj Darul Anuar milik keluarganya secara turun-temurun.

Sangat mengagumkan ia tidak tinggal di rumah dinas Menteri Besar semenjak menjadi Menteri Besar dari tahun 1990. Namun sayangnya, pada saat kami berkunjung ternyata beliau belum berada di rumah. Menurut beberapa guru yang mengajar di pesantren itu, kemungkinan beliau terlambat sebab agak sibuk dengan persiapan Pilihan Raya Umum (Pemilu) Malaysia dalam beberapa waktu ke depan.

Walau beliau sibuk sebagai Menteri Besar dan banyak tersita waktunya menjelang pemilu, namun dapat dipastikan bahwa beliau tetap cinta kepada Islam dan cinta kepada rakyatnya.

Dalam usia yang lebih dari 81 tahun beliau masih sanggup memberikan tausiah agama berjam-jam di pusat Kota Bharu. “Tuan Guru selalunya memberikan tausiah agama antara pukul 8.30-11.00 di jalan utama Kota Bharu, bahkan tidak kurang 20.000 orang tumpah ruah ke jalan mendengarkan tausiahnya,” kata Fahmi.

Saat kami melewati jalan yang disebutkan Fami, kami lihat ada beberapa pelantang suara (mik toa) yang dipasang pada tiang di beberapa persimpangan jalan kota. Ini bermakna, apa yang disebutkan Fahmi benar adanya.

Selain cerita Tuan Guru yang cinta rakyatnya itu, ada hal unik lainnya yang dipraktikkan oleh penjual kraftangan (cenderamata) dalam bentuk gantungan kunci. Gantungan kunci sangat unik. Terbuat dari kayu kecil tipis, kemudian digosok dengan kertas canee sebagai pelicin agar kayu tidak kasat. Selanjutnya dipelitur pewarna. Yang sangat unik sebetulnya pesan-pesan nasihat yang ditulis pada kayu kecil itu. Ada dua kategori nasihat yang membuat saya sangat berkesan. Pertama, nasihat mengenai ajakan menjalankan ajaran Islam dan belajar giat. Kedua, nasihat kepada kekasih melalui cinta dan doa kepada Allah Swt.          
                                                                                                                                                                Nasihat Cinta
Nasihat pertama diwujudkan dalam tulisan seperti, Jom (Ayo) jaga aurat!, Hormat ibu bapa jaga shalat, Baca Alquran, Ingat Allah, Jom!(ayo) shalat, belajar rajin-rajin dan study hard. Sedangkan nasihat kedua seperti: Sayang, kebahagiaan milik kita selamanya; atau nasihat lain: Kenang daku dalam setiap bisikan doamu.

“Nasihat-nasihat cinta” dari Kelantan seperti ini, terutama bagi kita masyarakat Aceh yang tengah giat mengimplementasikan syariat Islam, perlu kita galakkan. Meski ini hal kecil, tapi kalau ramai-ramai kita lakukan tentulah akan menjadi gerakan besar. Di samping itu kita juga terus mendorong Pemerintah Aceh agar serius mempercepat pengesahan Qanun Jinayah di bumi syariat ini. []

Tulisan ini telah di muat oleh Harian Serambi Indonesia, Edisi Selasa 19 Maret 2013.

http://aceh.tribunnews.com/2013/03/19/nasihat-cinta-dari-kelantan  
   
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Mengenang 15 Tahun Tsunami; Wajah Ayah Selalu Membayang

Oleh:   Teuku Muttaqin Mansur (Anak salah seorang korban tsunami 26 Desember 2004) Ayah saya, Teuku Haji Mansur bin Muda Gade, l...